Buku Cerita Interaktif (1990)

Masa SD  Tagged , , No Comments »

Saat SD dan SMP aku cukup rajin berkunjung ke perpustakaan daerah, terutama di waktu liburan sekolah. Di masa kecil aku tidak banyak punya kesempatan untuk bisa membeli buku, selain lokasi yang jauh juga karena tidak punya uang untuk itu. Perpustakaan sekolah memiliki koleksi yang terbatas. Untunglah perpustakaan daerah dekat dengan rumahku, cuma 1/2km, jadi bisa ditempuh dengan jalan kaki.

Di perpustakaan itu aku menemukan satu jenis buku cerita yang unik menurutku. Belakangan aku mengenal istilahnya buku cerita interaktif (interactive storybook).  Buku itu mengijinkan pembaca untuk terlibat dalam cerita yang sedang dia baca. Ya tentu saja pembaca tidak bisa seenaknya memberikan sumbangan cerita termasuk ending cerita. Namun setidaknya dalam buku cerita interaktif ini pembaca diberi berbagai pilihan untuk menentukan jalan cerita. Misalnya: Apakah si A akan pergi ke kota Anu? Jika ya, pergi ke halaman 10, jika tidak, lanjut.

Aku ingat betul yang kubaca waktu itu adalah buku bergambar dengan cerita Pinokio, boneka kayu yang diberi kehidupan. Sangat menarik mengikuti pola cerita yang bercabang-cabang dan kita bisa menentukan alur mana yang kita ikuti. Tapi karena penasaran, tetap saja aku coba semua alur. Jadinya bisa tahu, andai aku milih alur tertentu, endingnya begini, kalau alur lain, endingnya begitu. Menarik.

Tentu saja pilihan percabangan cerita yang diberikan tidaklah banyak. Bisa-bisa buku itu menjadi sangat tebal. Kadang ada beberapa alur yang endingnya bisa sama, meskipun memiliki jalan yang berbeda.

Setelah itu aku tidak pernah menemukan lagi buku cerita yang interaktif ini, apalagi yang merupakan karya anak negeri sendiri. Mungkin karena aku memang tidak terlalu serius mencari. Jadi kepikiran, sepertinya menarik juga kalau bisa membuat novel interaktif seperti itu hehehe…

Ada yang tahu novel interaktif seperti itu yang bagus ceritanya???

Berangkat Bersepeda Pulang Jalan Kaki (1992)

Masa SMP  Tagged , , No Comments »

Dengan jarak rumah ke sekolah (SMP) yang kurang lebih 1 km, aku lebih sering menempuhnya dengan berjalan kaki. Naik angkutan umum juga percuma, gak ada yang langsung, cuma setengah jalan dan sisanya harus jalan kaki juga. Rugi di ongkos. Kebetulan juga waktu itu kami cuma punya satu sepeda othel yang lebih sering dipakai bapakku buat kerja. Teman-teman yang tinggal di daerah dekatku juga sering jalan kaki, malahan ada yang jaraknya lebih jauh dariku. Adapula satu teman perempuan yang jaraknya lebih jauh dari aku, tapi kalau jalan jauh lebih cepat dariku. Mungkin karena pengaruh jarak dan postur tubuhnya yang lebih jangkung, sehingga jangkauan kakinya lebih jauh dariku. Kadang kalau aku pulang bareng dia aku kewalahan mengikuti kecepatan jalannya.

Tapi pernah beberapa kali aku ke sekolah naik sepeda, terutama saat aku buru-buru dan bapak sedang tidak masuk kerja. Sebagai PNS, bapakku sering bolos kerja meskipun sebenarnya dia juga menyelesaikan kerjaannya karena sering kali kerjaan kantor diselesaikan di rumah. Satu hal yang agak membuatku malas berangkat dengan sepeda adalah jalanan menuju sekolah menanjak terus meskipun tidak curam, dan untuk ukuran anak SMP cukup melelahkan untuk dilalui. Apalagi tanjakan menjelang perempatan Denggung yang saat itu masih curam. Sekarang sih tanjakan itu sudah lebih landai setelah beberapa kali ada perbaikan jalan.

Nah pernah aku berangkat sekolah naik sepeda, tapi pulangnya tetap jalan kaki. Bukan … sepedaku masih aman, bukan dicuri. Tapi dasar aku memang lupa. Habisnya aku terbiasa jalan kaki, sehingga waktu pulang sekolahpun aku jalan kaki bersama teman-teman yang lain. Saking asyiknya ngobrol dan buru-buru ingin segera pulang, aku lupa kalau hari itu aku bawa sepeda.

Sampai rumahpun aku tidak segera sadar. Aku masih sempat makan, tidur sebentar dan sedikit beraktifitas. Sejak SMP aku jarang bermain bersama teman-teman di kampung, entah mengapa. Mungkin karena posisi rumahku yang agak “terpisah” dari kampung utama, jadi aku malas bepergian menyeberang jalan. Eh, mendadak terpikir untuk pergi bersepeda. Jrenggg ….. baru aku ingat kalau sepedaku tertinggal di sekolah. Panik juga waktu sadar….

Langsung aku tancap gas ke sekolah, jalan kaki setengah berlari .. Waktu 15 menitpun terasa lambat saking cemasnya. Aku ingat dulu kakakku pernah kehilangan sepeda waktu SD gara-gara dicuri di dekat sawah. Akupun kuatir kalau hal itu terulang, maklumlah, sepeda masih menjadi alat transportasi andalan kami, dan itu cuma satu-satunya yang kami punya. Sampai di sekolah, aku langsung menuju tempat parkir sepeda. Masih ada beberapa sepeda yang diparkir di sana, mungkin ada kegiatan pramuka atau ada anak murid kelas 3 yang masih mengikuti les.

Lega rasanya, ternyata sepedaku masih ada. Padahal waktu itu sepeda dalam kondisi tidak terkunci. Syukurlah tempat sekolah masih cukup aman meskipun penjaga sekolah cuma seorang diri. Fuih ….

Kemerdekaan, Panjat Pinang dan Kondom (1991)

Masa SMP  Tagged , , 1 Comment »

Panjat pinang sudah menjadi tradisi dalam peringatan Hari Kemerdekaan RI. Ibarat ketupat di hari Lebaran, pohon cemara di hari Natal ataupun kembang api di saat pergantian tahun masehi. Perlombaan panjat pinang selalu menimbulkan kesan tersendiri, baik bagi peserta lomba maupun penonton. Ada kemeriahan tersendiri saat menyaksikan orang berjuang untuk memanjat batang pinang penuh dengan minyak, demi meraih hadiah yang kadang nilainya tak seberapa, meskipun di saat ini hadiah sudah mulai lebih mahal. Bukan hadiah yang menjadi tujuan, tapi andrenalin yang terpacu saat berusaha menaklukkan batang pinang itulah yang lebih menggairahkan.

Setidaknya itu yang kurasakan saat aku pertama kali, dan terakhir kali juga, ikut memeriahkan lomba panjat pinang di kampung, saat aku masih sekolah. Jarang sekali aku ikut lomba panjat pinang ini karena badanku yang mungil. Apalagi aku tidak terlalu pede memanjat pohon tanpa dahan. Aku pernah mencoba memanjat pohon kelapa, dan hasilnya aku merosot dengan badan babak belur. Tapi berhubung waktu itu peserta terbatas, akupun memberanikan diri untuk ikut. Ada satu keuntungan memiliki badan mungil, yaitu aku mendapat bagian memanjat paling akhir dengan agar aku bisa naik di bagian paling atas.

Tidak mudah ternyata. Memanjat manusia sama sulitnya dengan memanjat pohon. Belum lagi rasa gak enak karena menginjak-injak badan dan kepala kawan, tapi itu sudah bisa dimaklumi dalam perlombaan ini. Saat aku bisa mencapai puncak (waktu itu tiap kelompok terdiri dari 4 orang), aku harus bergulat dengan minyak dan oli yang menempel di batang pinang itu. Dalam dua kali percobaan, semua kelompok gagal mencapai puncak untuk menarik hadiah.

Barulah dalam kesempatan ketiga, kami semua berhasil mencapai puncak. Ah … .lega rasanya saat aku bisa mencapai puncak, meskipun ada rasa takut juga karena berada di ketinggian hampir 10 meter. Di perlombaan itu, yang berhasil naik terlebih dahulu tidak serta merta berhak mengambil semua hadiah. Agar adil, tiap kesempatan hanya boleh memilih 4 hadiah, agar kelompok lain juga bisa menikmati hadiah. Penonton ikut berteriak memilih hadiah mana yang seharusnya aku ambil. Aku tidak ingat pastinya hadiah apa saja yang kupilih saat itu. Yang jelas aku punya kesempatan 2 kali berada di puncak untuk mengambil hadiah.

Yang unik dan membuat meriah adalah adanya hadiah yang dibungkus dalam amplop. Karena berupa amplop, orang tidak bisa tahu pasti apa isinya. Yang jelas, menurut panitia, dalam amplop itu ada uang yang nilainya lumayan, lebih tinggi dibanding beberapa hadiah lain - panci plastik, sandal, baju, celana dalam, dsb. Makanya beberapa orang memilih untuk mengambil amplop tersebut. Lagipula hadiah uang lebih mudah dibagi-bagi dibandingkan barang. Masalahnya, ternyata sebagian amplop itu tidak berisi uang, melainkan KONDOM !!! Penonton, apalagi anak-anak kecil, tertawa terpingkal-pingkal saat melihat peserta membuka amplop yang berisi alat kontrasepsi itu. Beberapa anak memainkan kondom itu menjadi balon mainan, sambil tertawa riang. Dasar anak-anak … hehehe.

Entah, apa hubungannya kondom dan perayaan kemerdekaan RI :)

Tidak sia-sia perjuanganku dalam lomba panjat pinang itu. Aku berhasil pulang membawa kemeja lengan panjang, ya meskipun ukurannya terlalu longgar buatku. Setidaknya aku merasa bangga memakai baju hasil jerih payahku itu. Tujuh belasan dapat baju baru euy!

Terowongan Stasiun Tugu Jogja (1989)

Masa SD  Tagged , 2 Comments »

Rumahku berjarak hampir 10 km dari pusat kota. Tapi saat aku SD, ada masa dimana aku sering bermain ke kota, khususnya di daerah Malioboro. Saat itu aku punya tetangga namanya Sugeng, dia bukan penduduk asli kampungku, keluarganya banyak tinggal di daerah Badran. Sekitar kelas 5-6 SD, aku sering bermain dengan Sugeng, termasuk pergi ke Malioboro dengan sepeda atau naik angkutan umum.

Biasanya kami tidak langsung ke Malioboro, tapi mampir dulu ke Badran, ke tempat saudara Sugeng. Lumayan, kadang dapat makan+minum gratis sebelum melanjutkan permainan ke Malioboro. Tujuan kami di Malioboro cuma satu, toko Ramai, dan langsung menuju arena permaian untuk bermain video games. Jaman dulu belum ada PC apalagi game center. Arena video games juga masih terbatas.

Ada kenangan tersendiri saat kami menuju Malioboro dari daerah Badran ini. Kami tidak melewati jalanan umum, tapi mengambil jalur pintas lewat stasiun Tugu. Kami menyelinap lewat lubang/pintu di tembok stasiun sisi utara, kemudian berjalan ke dalam areal stasiun tanpa membeli tiket peron. Bisa bangkrut kalau tiap kali harus lewat peron. Selanjutnya kami menyeberang lewat terowongan bawah tanah di stasiun itu. Sangat menyenangkan mengingat masa itu.

Belakangan, terutama setelah bekerja, setiap kali berada di stasiun Tugu Jogja, seperti ada yang kurang. Ternyata terowongan itu sudah jarang (atau tidak lagi??) digunakan. Untuk menyeberang ke pintu selatan stasiun, bisa langsung menyeberang rel kereta. Malah kadang, seperti waktu terakhir aku pulang kampung, ketika ada kereta api yang sedang parkir, kami harus melewati gerbong kereta itu untuk menyeberang. Padahal dengan terowongan itu seharusnya lebih praktis. Entah mengapa terowongan itu tidak lagi digunakan. Padahal terkadang aku ingin melewati terowongan itu lagi, sekedar bernostalgia saat kecil, saat cuma pakai kaos oblong, bercelana pendek dan sandal jepit :)

Ada yang tahu???


WordPress Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in